Pimpinan Baru BGN Rombak Strategi MBG, Prioritaskan Kualitas dan Wilayah 3T
BEKASINOW – Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan sejumlah perubahan strategis dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah pergantian pimpinan di lembaga tersebut.
Kepala BGN Nanik S. Deyang bersama Wakil Kepala Agustina Arumsari dan Mayjen Trenggono langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program yang menjadi salah satu prioritas pemerintah tersebut. Hasilnya, BGN memutuskan mengubah sejumlah kebijakan untuk meningkatkan efektivitas program.
Salah satu langkah yang diambil adalah moratorium atau penghentian sementara pendaftaran serta pembangunan dapur MBG baru. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran sekaligus pembenahan dapur yang telah beroperasi.
Saat ini terdapat lebih dari 27 ribu dapur MBG aktif di berbagai daerah. BGN menilai evaluasi perlu dilakukan untuk memastikan seluruh dapur memenuhi standar kesehatan, keamanan pangan, dan kualitas pelayanan.
Selain itu, BGN juga mengubah fokus program dari mengejar jumlah penerima manfaat menjadi meningkatkan kualitas pelaksanaan. Target 82,9 juta penerima manfaat yang sebelumnya dicanangkan tidak lagi menjadi prioritas utama pada tahun ini.
Sebagai gantinya, BGN akan memfokuskan perhatian pada kualitas makanan yang disajikan, kesehatan dapur, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam operasional program.
Dapur yang tidak memenuhi standar akan dievaluasi dan berpotensi dikenai penghentian sementara hingga dilakukan perbaikan.
Perubahan berikutnya adalah penajaman sasaran penerima manfaat. BGN akan memprioritaskan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang selama ini dinilai belum mendapatkan layanan secara optimal.
Menurut BGN, distribusi dapur MBG saat ini masih banyak terkonsentrasi di kawasan perkotaan dan wilayah aglomerasi. Kondisi tersebut membuat sejumlah daerah 3T belum tersentuh secara maksimal oleh program.
Selain wilayah 3T, kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita juga menjadi prioritas dalam pelaksanaan MBG. Kelompok tersebut dinilai membutuhkan intervensi gizi yang lebih intensif untuk mendukung tumbuh kembang anak sejak masa kehamilan.
BGN juga membuka peluang evaluasi terhadap sekolah-sekolah dari kelompok ekonomi mampu yang selama ini menerima manfaat program. Langkah itu dilakukan agar anggaran dapat dialihkan kepada kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan.
Melalui penyesuaian strategi tersebut, BGN berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan dampak yang lebih besar terhadap upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat Indonesia.



