Bekasi Ditinggal Mudik, “Pemain Inti” Jadi Penjaga Kota di Hari Raya
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, denyut Kota Bekasi berubah. Aktivitas masih berjalan, tetapi ritmenya melambat seiring gelombang besar warga yang pulang ke kampung halaman. Pada H-1 Lebaran, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto turun langsung ke Stasiun Bekasi untuk memastikan arus mudik berada dalam kendali.
Dari pantauan di lapangan, sekitar 60 persen warga Bekasi diperkirakan meninggalkan kota untuk mudik. Sisanya, sekitar 40 persen, memilih tetap tinggal. Kelompok inilah yang oleh Tri disebut sebagai “pemain inti”, mereka yang menjaga kota tetap hidup saat sebagian besar warganya pergi.
Istilah itu bukan sekadar kiasan. Di tengah berkurangnya populasi sementara, keberadaan “pemain inti” menjadi penopang layanan publik, penggerak ekonomi, sekaligus penjaga stabilitas kota. Bekasi, dengan segala dinamikanya, tidak benar-benar berhenti, hanya berganti ritme.
Di stasiun, Tri juga berbincang dengan sejumlah pemudik. Salah satunya warga Bekasi Utara yang hendak menuju Yogyakarta. Percakapan mengalir dari alasan memilih waktu keberangkatan hingga perkiraan durasi perjalanan. Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik dan keselamatan selama perjalanan panjang.
Selain memastikan kelancaran arus mudik, perhatian juga diarahkan pada kesiapan menyambut Hari Raya. Jika Idul Fitri jatuh keesokan hari, masyarakat diimbau telah siap melaksanakan salat Id dengan tertib.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bekasi sebelumnya telah menggelar program mudik gratis dengan memberangkatkan 27 armada bus ke berbagai kota tujuan. Seluruh peserta dilaporkan telah tiba dengan selamat, menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadirkan perjalanan yang aman dan terjangkau.
Momentum mudik, bagi Bekasi, bukan hanya tentang pergerakan manusia, tetapi juga tentang keseimbangan. Ada yang pergi membawa rindu, ada yang tinggal menjaga kota tetap menyala.



