108504

Smart City: Bukan Cuma Pamer Teknologi, Tapi Soal Empati

Bayangin kalau sebelum sebuah gedung raksasa dibangun di dunia nyata, pemerintah udah nge-tes efeknya di dunia virtual. Mulai dari ngecek apa gedung itu bakal bikin macet parah sampai ngitung nutupin aliran angin buat warga sekitar nggak. Kalau ternyata bikin ribet, pembangunannya bisa langsung dibatalin.

Kedengarannya kayak fiksi ilmiah, kan? Padahal, ini adalah riset paling mutakhir dari konsep Smart City atau Kota Pintar yang lagi dikembangin sekarang, namanya “Kembaran Digital” atau simulasi kota tiga dimensi pakai kecerdasan buatan. Tren ini jadi bukti nyata kalau fungsi kota pintar itu bukan sekadar ajang pamer teknologi canggih, tapi beneran buat mastiin ruang hidup warganya tetap nyaman.

Sebenarnya, kalau kita tarik mundur, ide ngasih “sistem saraf” ke sebuah kota ini nggak muncul secara instan. Jauh di tahun 1994, Amsterdam udah nyoba bikin “Kota Digital” biar warganya bisa nongkrong dan interaksi secara virtual. Tapi, istilah Smart City baru bener-bener hype di tahun 2008 waktu IBM ngenalin kampanye “Smarter Planet” pas krisis ekonomi global lagi parah-parahnya. Waktu itu orang-orang sadar kalau kota harus dikelola dengan cara yang lebih hemat sumber daya dan efisien biar tetap survive.

Dari situ, banyak kota mulai berevolusi. Awalnya banyak yang cuma ikutan tren alias FOMO, asal pasang ribuan sensor dan CCTV tanpa tahu datanya mau diapain. Setelah ngelewatin fase itu, mereka mulai sadar dan manfaatin teknologi buat hal-hal praktis, kayak nambal jalan rusak lewat aplikasi pelaporan warga.

Buat ngelihat wujud nyatanya sekarang, kamu bisa nengok ke Songdo di Korea Selatan sebagai contoh kota yang bener-bener dibangun dari nol. Saking terkonsepnya, sampah rumah tangga di sana nggak diangkut truk berisik, tapi langsung disedot otomatis lewat pipa bawah tanah! Di sisi lain, buat kota yang udah lama ada tapi sukses menyatukan semua layanannya—mulai dari transportasi sampai kesehatan—Singapura masih jadi panutan utamanya.

Pada akhirnya, ngebangun kota pintar itu proses pendewasaan yang terus berjalan. Sekarang kita udah masuk di era kolaborasi, di mana teknologi dipakai buat ngajak warga ikut nentuin nasib kotanya bareng-bareng. Secanggih apa pun sistem yang dipasang, esensi utamanya tetaplah empati, buat nyiptain kota yang lebih peka sama kita yang tinggal di dalamnya.