Usai Groundbreaking PSEL, Tri Ungkap PR Kota Bekasi: 1.400 Ton Diolah, Sisanya Harus Diselesaikan dari Hulu

KOTA BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) belum otomatis menuntaskan seluruh persoalan sampah di Kota Bekasi. Pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan besar untuk menangani sisa sampah yang tidak masuk ke fasilitas tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Tri seusai groundbreaking pembangunan PSEL di Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Rabu (26/8/2026).

Tri menjelaskan, fasilitas PSEL dirancang memiliki kapasitas maksimal sekitar 1.500 ton sampah per hari. Namun, volume yang disepakati untuk diolah mencapai sekitar 1.400 ton per hari.

Sementara itu, produksi sampah Kota Bekasi saat ini berada di kisaran 1.800 ton per hari.

“Sisa 300 ton menjadi tantangan kita, sehingga pemilahan sampah dari hulu tetap harus diutamakan,” kata Tri.

Menurutnya, penguatan pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga, lingkungan, hingga bank sampah tetap menjadi bagian penting dari strategi penanganan sampah Kota Bekasi.

Saat ini terdapat sekitar 643 bank sampah aktif di Kota Bekasi. Namun, secara keseluruhan kemampuan pengelolaannya baru berada di kisaran 10 ton per hari.

Tri mengatakan, setelah groundbreaking, tugas Pemerintah Kota Bekasi juga belum selesai. Pemkot harus memastikan proses konstruksi berjalan sesuai target, menyiapkan sistem pengangkutan, sekaligus menjamin pasokan sampah menuju fasilitas PSEL.

Selain itu, Pemkot berencana mengembangkan pengolahan residu hasil pembakaran PSEL. Residu tersebut nantinya diarahkan untuk dimanfaatkan menjadi sejumlah material, seperti batako, kerikil, pasir hingga bahan campuran semen.

Dari sisi energi, listrik yang dihasilkan PSEL akan disalurkan melalui jaringan PLN. Tri menyebut PLN akan membangun gardu khusus yang terintegrasi dengan fasilitas tersebut.

Keberadaan PSEL diharapkan menjadi solusi utama bagi sebagian besar timbulan sampah Kota Bekasi. Namun, Tri menegaskan persoalan sampah tetap membutuhkan perubahan perilaku masyarakat, terutama melalui pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumber.