IMG-20260531-WA0000 crop

Rayakan Idul Adha di Tanah Suci, Wiwiek Hargono Tekankan Pentingnya Nilai Kemanusiaan

BEKASI – Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah menjadi momen yang berbeda bagi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono. Tahun ini, ia merayakan hari raya kurban dari Tanah Suci saat menjalankan ibadah haji bersama suaminya, Tri Adhianto, serta sejumlah sahabat.

Berada di Makkah pada momentum Idul Adha membuat Wiwiek merasakan pengalaman spiritual yang lebih mendalam. Menurutnya, perayaan hari raya kurban tidak hanya berbicara tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian terhadap sesama.

“Idul Adha mengajarkan nilai keikhlasan dan kepedulian. Bukan hanya tentang berkurban, tetapi bagaimana kita mampu berbagi dan menghadirkan manfaat bagi sesama,” ujar Wiwiek melalui sambungan telepon dari Tanah Suci.

Wiwiek menilai semangat berkurban memiliki makna sosial yang kuat karena mampu menumbuhkan rasa empati di tengah masyarakat. Melalui pembagian daging kurban, masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi dapat membantu mereka yang membutuhkan sehingga tercipta semangat kebersamaan dan saling menguatkan.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Dekranasda Kota Bekasi itu mengatakan tradisi Idul Adha turut menjaga nilai gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Indonesia. Semangat tersebut terlihat dalam seluruh rangkaian pelaksanaan kurban, mulai dari penyembelihan hingga distribusi daging kepada warga penerima manfaat.

“Nilai kebersamaan dan gotong royong selalu terlihat saat Idul Adha. Ini menjadi modal sosial yang sangat penting untuk menjaga persatuan dan kerukunan di tengah masyarakat,” katanya.

Wiwiek mengaku selalu merasakan kebahagiaan tersendiri saat melihat daging kurban dapat dinikmati masyarakat, khususnya mereka yang mungkin hanya bisa mengonsumsi daging pada momen tertentu dalam setahun.

Karena itu, ia berharap semangat berbagi tidak hanya hadir saat Idul Adha, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keikhlasan membantu sesama dapat menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik dan harmonis.

Dari Makkah, Wiwiek juga membagikan kesannya menyaksikan jutaan umat Muslim dari berbagai negara berkumpul dalam satu tujuan yang sama, yakni beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baginya, pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata persatuan umat Islam tanpa memandang perbedaan bangsa, bahasa, maupun budaya. Seluruh jamaah berdiri setara di hadapan Allah SWT untuk memohon ampunan dan petunjuk.

“Yang membedakan nantinya adalah bagaimana ibadah yang dijalankan mampu membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.