Pakar IPB Jelaskan Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa dan Potensinya bagi Indonesia
BOGOR– Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian dunia setelah suhu di beberapa wilayah menembus rekor tertinggi. Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penyebabnya serta kaitannya dengan perubahan iklim global.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menjelaskan bahwa gelombang panas di Eropa tidak dipicu oleh satu faktor tunggal.
Menurutnya, fenomena tersebut merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang sangat luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, kawasan tempat sebagian besar wilayah Eropa berada.
“Gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah,” ujarnya.
Saat musim panas di belahan bumi utara, daratan mengalami pemanasan maksimum karena menerima radiasi matahari lebih besar. Berbeda dengan lautan yang mampu menyimpan panas lebih lama, daratan memanas lebih cepat sehingga suhu udara di atasnya meningkat secara signifikan.
Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby dan memicu terjadinya gelombang panas. Kondisi itu semakin diperparah oleh melambatnya pergerakan gelombang Rossby pada musim panas, sehingga massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah.
Selain itu, fenomena Omega Block atau pola tekanan tinggi di atmosfer turut menjebak udara panas sehingga suhu ekstrem dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama.
Terkait hubungan fenomena tersebut dengan perubahan iklim, Sonni menilai kesimpulan tersebut perlu didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif dan tetap mempertimbangkan dinamika atmosfer alami.
Meski terjadi di Eropa, fenomena itu memiliki keterkaitan dengan sistem iklim global melalui mekanisme telekoneksi. Namun, Indonesia diperkirakan tidak akan mengalami gelombang panas seperti di Eropa.
“Di Indonesia, peningkatan suhu ekstrem lebih banyak dipengaruhi perubahan penggunaan lahan dan efek urban heat island di kawasan perkotaan,” katanya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah dan masyarakat memperkuat upaya adaptasi melalui reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan guna mengurangi dampak peningkatan suhu di masa mendatang.



