Dari Panggung Budaya ke Arena Porprov, Barongsai Tuntut Fisik dan Presisi Tinggi
KOTA BEKASI – Atraksi barongsai yang memukau penonton ternyata menyimpan tuntutan olahraga yang cukup kompleks. Di balik gerakan lincah, lompatan, dan permainan kepala singa yang ekspresif, terdapat kekuatan fisik, teknik, keseimbangan, serta kerja sama antaratlet.
Barongsai kini telah berkembang menjadi olahraga prestasi di Indonesia. Pembinaan dan kompetisinya berada di bawah Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI), yang berdiri pada 2012 dan diterima sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) setahun kemudian.
Untuk tampil maksimal, atlet barongsai membutuhkan kondisi fisik prima. Kekuatan kaki diperlukan saat melakukan lompatan, sementara kelenturan dan keseimbangan berperan penting dalam menjaga kualitas setiap gerakan.
Koordinasi antaratlet juga menjadi salah satu unsur utama. Dalam satu kostum, dua pemain harus mampu menyatukan ritme dan gerak sehingga barongsai terlihat hidup dan bergerak sebagai satu kesatuan.
Tantangan tersebut semakin besar pada nomor tonggak. Atlet harus melompat dari satu pijakan menuju pijakan lainnya dengan jarak dan posisi yang terbatas. Kesalahan kecil dapat memengaruhi keseimbangan sekaligus nilai penampilan.
Dalam pertandingan resmi, barongsai memiliki berbagai nomor, mulai dari taolu bebas, tradisional, kecepatan, halang rintang hingga ketangkasan. Cabang ini juga mencakup nomor naga atau liong serta pekingsai.
Pada Porprov XV Jawa Barat 2026, Kota Bekasi menjadi salah satu lokasi pertandingan cabang barongsai. Sebanyak 10 nomor akan dipertandingkan.
Masuknya barongsai dalam Porprov menegaskan perkembangan cabang tersebut dari seni pertunjukan tradisional menuju olahraga prestasi. Setiap penampilan bukan hanya soal hiburan, melainkan juga hasil latihan panjang yang menguji kekuatan, teknik, keberanian, serta presisi atlet.



