Pemkot Bekasi Sosialisasikan Peluang Kerja PSEL kepada Ratusan Siswa SMK
KOTA BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi mulai memperkenalkan peluang kerja di sektor pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) kepada generasi muda. Langkah ini dilakukan untuk mempersiapkan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan operasional fasilitas PSEL di kawasan Bantargebang.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyosialisasikan peluang tersebut kepada ratusan siswa dan siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tiga sekolah pada Selasa (6/10/2026). Ketiga sekolah itu meliputi SMK Karya Guna 1 Duren Jaya di Bekasi Timur, SMKN 5 Teluk Pucung di Bekasi Utara, serta SMK Patriot 1 Harapan Mulya di Medan Satria.
Dalam kegiatan tersebut, siswa, terutama dari jurusan elektrik dan bidang keahlian terkait, mendapatkan informasi mengenai kesempatan menjadi operator PSEL. Pemkot Bekasi menargetkan sekitar 100 calon tenaga kerja untuk direkrut dan mengikuti tahapan persiapan sebelum ditempatkan sesuai kebutuhan fasilitas.
Tri mengatakan, keterlibatan siswa SMK merupakan bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi yang dimiliki lulusan pendidikan vokasi. Karena itu, para siswa didorong untuk mulai mempersiapkan kemampuan teknis serta memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
“PSEL bukan hanya berbicara mengenai bagaimana kita menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga membuka peluang baru bagi anak-anak Kota Bekasi untuk mendapatkan pekerjaan. Karena itu, saya ingin siswa SMK mempersiapkan diri, meningkatkan kemampuan, dan melihat ini sebagai kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan Kota Bekasi,” ujar Tri.
Salah satu tahapan persiapan yang direncanakan bagi calon tenaga kerja adalah pelatihan selama delapan bulan di PT Wangneng, China. Peserta juga harus memenuhi persyaratan pendidikan, kesehatan jasmani dan rohani, serta ketentuan lain dalam proses seleksi.
Fasilitas PSEL Kota Bekasi sendiri berlokasi di RW 04, Kelurahan Ciketingudik, Kecamatan Bantargebang. Dengan luas lahan sekitar 6,1 hektare, fasilitas ini dirancang untuk mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari menggunakan teknologi Moving Gate Incinerator yang dilengkapi sistem pengendalian polusi udara.
Pengembangan fasilitas tersebut diarahkan untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus menghasilkan energi listrik. Berdasarkan paparan Pemkot Bekasi, PSEL diproyeksikan mampu memasok listrik bagi sekitar 55.000 rumah tangga serta berpotensi mengurangi emisi hingga 640.000 ton CO₂ ekuivalen per tahun.
Tri menegaskan, manfaat PSEL diharapkan tidak terbatas pada aspek lingkungan dan energi, tetapi juga mencakup penciptaan kesempatan kerja bagi masyarakat.
“Yang kita bangun adalah sebuah ekosistem yang manfaatnya harus dirasakan masyarakat. Sampah dapat diolah menjadi energi, lingkungan bisa ditata lebih baik, dan di saat yang sama anak-anak kita mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan berkembang. Ini yang ingin kita dorong agar manfaat PSEL benar-benar berkelanjutan,” kata Tri.
Melalui sosialisasi ini, Pemkot Bekasi berharap siswa SMK dapat memahami kebutuhan industri pengelolaan sampah berbasis teknologi serta mempersiapkan kompetensi yang relevan. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan energi dari sampah sekaligus membuka peluang kerja hijau bagi masyarakat Kota Bekasi.



