Teknologi Ekstrusi Bikin Beras Fortifikasi Lebih Tahan Saat Dicuci
KOTA BOGOR – Kebiasaan mencuci beras sebelum dimasak menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan dalam pengembangan beras fortifikasi. Sebab, cara vitamin dan mineral dimasukkan ke dalam buliran akan memengaruhi seberapa banyak zat gizi yang tetap bertahan hingga dikonsumsi.
Kepala SEAFAST IPB University, Dr Puspo Edi Giriwono, mengatakan beras fortifikasi merupakan beras yang mendapatkan tambahan sejumlah mikronutrien.
Komponen yang dapat ditambahkan meliputi vitamin B1, B9, dan B12, serta mineral besi dan zink. Besi berperan membantu menekan risiko anemia, sedangkan zink mendukung sistem kekebalan tubuh serta pertumbuhan.
Dalam proses produksinya, fortifikasi dapat dilakukan melalui metode coating, dusting, dan ekstrusi.
Puspo menilai metode ekstrusi memiliki keunggulan karena zat fortifikan masuk ke dalam buliran, sehingga lebih terlindungi dari faktor lingkungan seperti cahaya, oksigen, dan panas.
Keunggulan tersebut juga terlihat saat beras dicuci. Fortifikan yang berada di dalam struktur bulir relatif lebih sulit terlepas dibandingkan zat gizi yang hanya menempel di permukaan.
“Ketika beras dicuci sebelum dimasak, kandungan fortifikan relatif lebih terjaga dibandingkan teknologi yang hanya melapisi permukaan beras,” kata Puspo.
Pada metode coating atau dusting, sebagian vitamin dan mineral berisiko ikut terbawa air pencucian. Karena itu, perilaku konsumen menjadi bagian penting dalam penentuan teknologi dan standar fortifikasi.
Selain persoalan teknis, pengembangan beras fortifikasi masih menghadapi tantangan dari sisi produksi. Akses terhadap teknologi dan modal perlu diperluas agar penerapannya tidak hanya terkonsentrasi pada produsen besar.
Ketersediaan bahan fortifikan juga menjadi perhatian, mengingat sebagian vitamin dan mineral masih harus dipenuhi melalui impor.
Puspo menekankan bahwa sistem pengujian perlu dilakukan secara hati-hati. Pada rasio pencampuran yang dapat mencapai 1:100, sampel yang tidak mewakili keseluruhan produk dapat menghasilkan penilaian yang keliru.
Ia juga mendorong kajian mengenai laju degradasi vitamin dan mineral selama penyimpanan. Data tersebut dibutuhkan untuk menyusun standar produksi, distribusi, dan masa simpan yang lebih akurat.
Melalui teknologi yang tepat, beras fortifikasi diharapkan dapat memberikan manfaat gizi secara lebih konsisten kepada masyarakat.



